Posted by Daniel Mahendra on January 26, 2010 under Review |
oleh Amang Suramang
Epitaph, novel pertama dari trilogi yang ditulis Daniel (Chandra) Mahendra ini, sekilas menjanjikan cerita yang luar biasa. Bagaimana tidak? Di sampul belakang buku ini, pembaca disodorkan sebuah premis yang begitu kuat: sepasang kekasih, Laras dan Haikal, memutuskan untuk mengekalkan hubungan mereka, tetapi Laras meninggal tragis dalam kecelakaan helikopter di Sibayak. Bukan hanya itu! Saat aku datang ke peluncuran buku ini, aku cukup terkejut saat mengetahui dari mulut si penulis bahwa di balik karya fiksi ini sesungguhnya adalah sebuah kisah nyata. Wahai! Tentulah ini akan jadi kisah fiksi yang hebat! Penulis tak perlu mereka-reka, tinggal menggali emosi lebih dalam. Apalagi ada endorsement di sampul buku yang mengatakan super jelas, “ini kisah tragis!”, maka dengan sengaja aku siapkan satu boks tissue. Aku sudah siap untuk berurai airmata.
* * *
Aku ingin mengawalinya dengan mengatakan ini: Realita adalah serangkaian narasi yang disampaikan kepada kita. Setiap hari dalam hidup kita, disodorkan berbagai peristiwa-peristiwa yang berkelebat cepat, mengelilingi, atau bahkan menghampiri kita. Semua peristiwa ini terjadi sungguhan, tetapi ia menjadi realita saat ternarasikan. Sekiranya tanpa narasi, peristiwa-peristiwa itu bisa jadi tak bermakna apa-apa.
Read more of this article »
Posted by Daniel Mahendra on January 25, 2010 under Review |
oleh Ipon Bae
Membaca resensi novel Pelacur Politik dan Hehehe karya TANDI SKOBER disebuah Koran lokal Mitra Dialog Cirebon sabtu-legi (23 januari 2010) 7 safar 1431H. resensi tersebut ditulis oleh jurnalis DADANG KUSNANDAR, DADANG KUSNANDAR coba membedah novel karya TANDI SKOBER dengan gaya tuturnya yang kulturistik dan futuristik tapi masih ada kata yang Bengal dan literature yang janggal . memahami novel karya TANDI SKOBER seperti membaca/menginginkan, membangun sebuah singgasana di alam barzah mungkin juga alam surga, adalah sebuah lencana. Dari novel PPHHH,Tandi Skober mencoba memperkenalkan jurnalisme sastrawi kultural (aliran ala Tandi Skober), genre ini baru saja terlahir dari novel PPHHH yang terbilang baru dalam aliran journalism (mungkin). Jurnalisme sastrawi kultural disebut juga narrative reporting karena penyajiannya dalam bentuk narasi tanpa basa-basi “sing linuwih” dengan meng-klimak-kan kata masturbasi . Istilah passionate journalism juga bisa digunakan untuk menyebut aliran ini (maaf jika berkenan). Ada juga yang menyebut jurnalisme sastrawi kultural sebagai literary journalism. terlepas dari itu semua, jurnalisme sastrawi kultural menyodorkan hal baru yang menarik untuk dikaji, diteliti. Lagi pula Kenapa harus malu memakai bahasa sendiri?
Read more of this article »
Posted by Daniel Mahendra on under Review |
oleh Rara Ajeng Dewantari Radesya
Sebenarnya buku ini sudah lama ingin aku baca, tapi karena ada suatu hal, terpaksa kakakku yang lebih dulu membacanya. Jadi aku menunggu hingga kakak selesai membacanya. Mungkin ini novel pertama yang dibaca kakakku. Padahal ia gak pernah tertarik baca novel, entah kenapa ia bisa tertarik untuk membacanya. Secara ia suka sesuatu yang berhubungan dengan otomotif. Menulis ulasan ini sangat sulit bagiku, secara aku mengenal penulis dan paham betul karakternya. Tapi aku akan berusaha se-obyektif mungkin menilainya. Aku memang tak belajar sastra, hanya orang awam yang mencintai satra. Ini hanya ulasanku berkapasitas sebagai pembaca. Seperti karya-karya satra lainya yang pernah aku baca. Dan aku hanya menceritakan apa yang telah aku baca. Sebenarnya mungkin aku belun pantas menilai sebuah karya seseorang, jadi mungkin kalau ada salah kata, desya mohon maaf.
Epitaph adalah bagian dari novel Trilogi (Epitaph, Epigraf dan Epilog) buah karya Daniel Mahendra terdiri dari sepuluh bab dan 358 halaman yang bercerita tentang tiga tokoh sentral yaitu Haikal, Laras dan Langi. Di awali Haikal yang membawa setumpuk catatan pada Langi untuk dijadikan sebuah novel. Dan ada kisah percintaan antara Haikal dan Laras yang menurutku unik dan menarik untuk disimak. Haikal harus kehilangan kekasih yang sangat dicintainya (Laras Sarasvati) itu dengan tragis. Dan kematian itu yang menyisakan misteri. Karena Laras hilang bersama kru film lainnya jatuh dari helikopter saat melakukan pengambilan gambar dari udara menggunakan helikopter milik TNI AD. Ada semacam birokrasi di sini, yang berusaha menutup-nutupi tentang kejadian itu. Hingga semuanya terungkap saat bangkai helikopter itu ditemukan bersama tulang-belulang penumpangnya. Bahkan saat pengambilan jenazah korban, pihak Angkatan Darat mengajukan beberapa syarat yang tidak manusiawi untuk disepakati.
Read more of this article »